Penyakit Yang Lebih berbahaya dibanding AIDS maupun Flu Burung

  • Dimana letak idealisme dalam (demokrasi) politik? Kalau politik itu the art of the possible, berarti "apa yang harus" dari idealisme harus didamaikan dengan "apa yang mungkin" dalam realitas. Proses politik (yang demokratis) membutuhkan suatu kadar pragmatisme yang memadai.
Mantan presiden Amerika Churchill pernah menyampaiakan "Ada dua perkara di dunia ini yang, kalau orang tahu cara membuatnya, orang tidak doyan", yang pertama sosis; yang kedua adalah undang-undang! "
  • Pekerjaan menggulirkan proses politik di lingkungan demokrasi meliputi rangkaian aksi: mengancam, membujuk dan menukar. Bahkan tidak jarang --untuk tidak mengatakan "hampir selalu"-- proses itu melibatkan uang. Dan karenanya seringkali tampak menjijikkan oleh kacamata idealisme.
Dalam skala negara, tidak mungkin terjadi power-game tanpa uang. Politik seringkali digerakkan oleh pemilik kapital "sebab, uang merekalah yang menggerakkan politik. Selama mereka tidak mengeluarkan uang, tidak akan terjadi apa-apa".
  • Uang juga merupakan konsekuensi logis dari prinsip hak pilih universal dalam penggalangan kekuatan politik. Untuk menjangkau pemilih saja tidak mungkin gratisan. Apalagi untuk membujuk dan meyakinkan mereka. Oleh karenanya, undang-undang tidak melarang penggunaan uang. Undang-undang hanya membatasi modus-modusnya: mana yang dianggap sah, mana yang tidak.
Tapi undang-undang adalah satu hal, sedangkan praktek adalah hal lain. Law enforcement dibatasi kapasitas dan integritas instrumen-instrumen nya. Kalau seperempat saja penduduk Indonesia ini maling, sudah pasti sistem hukum berhenti berfungsi. Apalagi "kepastian hukum" itu sendiri tidak penah menuntut orang berhenti maling. Ia hanya menuntut maling agar cukup pintar untuk menghindari jeratan hukum. Merajalelanya praktek bagi-bagi uang oleh politisi hari ini saya kira sudah mencapai skala yang tak terpikulkan oleh kapasitas law enforcement system kita.
  • Hukum / ajaran dari semua agama sangat jelas, Haram hukumnya menerima uang macam itu, baik dengan iktikad menuruti kemauan si pemberi maupun sekedar menerima untuk kemudian tetap "mengikuti hati nurani" Tapi fatwa lugas macam itu —demi Allah— sulit diterima oleh orang awam hari ini. Coba lihat wajah para peserta Ketika kamu melihat dalam ceramah agama entah apakah engkau akan merasa geli atau pengen menangis. Wajah-wajah nyengir itu sungguh campur-aduk: antara kecewa, malu, sedih, takut... entah apa lagi.
Kegetiran ini bersumber dari perasaan tidak berdaya untuk menemukan sesuatu yang cukup berarti untuk dilakukan demi mencari dan memperlebar celah masuk bagi idealisme-idealisme murni yang rasanya nyaris tertutup sama sekali. Sebagian besar rakyat terlampau lapar untuk bercita-cita. Sementara ada segelintir orang yang menguasai terlalu banyak uang, cukup untuk membeli apa saja, bahkan jiwa. Bagaimana kalau si pemegang uang banyak itu diam-diam kurang waras? Bagaimana kalau ternyata uang itu mewakili "kepentingan- kepentingan asing"? Saya jadi teringat When Corporations Rule the World-nya David Korten. Dan jadi makin kebelet gila.
  • Resep menghadapi politik uang, saya kuatir hari ini tak ada. Mungkin nanti, ketika rakyat sudah cukup kenyang untuk kober bermimpi, cukup pintar untuk menandai kebajikan dalam cita-cita. Hari ini, cukuplah percaya pada hikmah Tuhan saja, lalu mengumpul-ngumpulkan pahala.

 

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog


ShoutMix chat widget