Menantikan The Thirth Way Ekonomi Indonesia

Beberapa hari ini masyarakat dibingung dengan istilah neo liberal, jangankan neo liberal yang liberal seperti apa juga masyarakat masih sangat banyak yang belum tahu, statement elit politik secara tidak langsung memberikan wawasan yang cukup baik bagi masyarakat bila diikuti dengan penjelasan yang lebih rinci akan masksud yang sebenarnya dari wacana yang dilontarkan. proses politik yang sedang berlangsung sekarang hendaknya bias dikemas sedemikian rupa sehingga terjadi tidak hanya pendewassaan politik saja tetapi juga peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai banyak hal salah satunya adalah peningkatan pengetahuan tentang pandangan/ aliran / paham / isme-isme dalam perekonomian internasional.
  • Beberapa hari ini masyarakat dibingung dengan istilah neo liberal, jangankan neo liberal yang liberal seperti apa juga masyarakat masih sangat banyak yang belum tahu, statement elit politik secara tidak langsung memberikan wawasan yang cukup baik bagi masyarakat bila diikuti dengan penjelasan yang lebih rinci akan masksud yang sebenarnya dari wacana yang dilontarkan. proses politik yang sedang berlangsung sekarang hendaknya bias dikemas sedemikian rupa sehingga terjadi tidak hanya pendewassaan politik saja tetapi juga peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai banyak hal salah satunya adalah peningkatan pengetahuan tentang pandangan/ aliran / paham / isme-isme dalam perekonomian internasional.
Dalam pandangan masyarakat umum sekarang yang ditangkap dari adanya polemic berkaitan dengan pencalonan Budiono sebagai cawapres pendamping SBY (SBY Ber Boedi) adalah bahwa Budiono yang mantan gubernur BI (baru saja mengundurkan diri dari jabatannya sebelum pencalonan) dianggap mempunyai pandangan ekonomi yang neo liberal, tidak pro rakyat, lebih memihak pengusaha dan infestor asing dan pemikiran ekonominya lebih pro Amerika, IMF dll. Sedangkan disisi lain masyarakat juga diberi informasi berkaitan tentang paham tandingan yang anti pada neo liberal yaitu pandangan/aliran ekonomi kerakyatan yang diusung oleh pasangan Mega Pro Rakyat sementara pasangan Jusup Kalla dan Wiranto (JK WIN) lebih pada ajakan untuk menciptakan kemandirian ekonomi. Bagaimanapun itu adalah hak dari masing-masing pasangancalon untuk mencitrakan dirinya guna merebut simpati dan dukungan dari masyarakat.
  • Yang perlu dibahas kemudian adalah “apakah betul Boediono memang Neolib”. Budiono yang dulu dikenal sebagai pengarang buku ekonomi mikro dan ekonomi makro yang jadi buku pegangan mahasiswa ekonomi di Indonesia kiranya bukanlah orang yang bodoh yang hanya Taklid pada Adam Smit , Alan Grispant, Goerge Soros dan seabrek pemikir ekonomi liberal lainnya semata, kita yakin tentunya Boediono juga tahu Karl Mark sebagai tokoh terdepan yang mengusung ekonomi sosialis, Boediono juga kita yakin telah membaca The Thirth Way Antoni Gidens dan The End of Historynya Fransiscus Fukuyama, serta pemikir besar lainnya.
Budiono bukanlah pengusaha, dia lebih banyak kecenderungannya sebagai pemikir ekonomi Indonesia yang boleh dibilang kepakarannya tidak kalah dengan Begawan Ekonomi Indonesia Soemitro Joyohadi Kusumo. Kita tunggu saja, semoga dengan kepakarannya, ditunjang dengan posisinya sebagai orang kedua di negri ini (jika terpilih) Boediono mampu untuk menyusun serta mengimplementasikan The Thirth Way Ekonomi Indonesia yang tidak anti/pro barat 100% tetapi juga mampu menciptakan kemandirian ekonomi bangsa serta lebih mengedepankan ekonomi rakyat. Bukankah tujuan membentuk dan membangun bangsa ini adalah untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur.
  • Biarlah seluruh pasangan capres saling berebut simpati, sebagai masyarakat mari kita dukung Demokrasi, kita ciptakan Persatuan untuk Pembangunan untuk Kebangkitan Bangsa guna mencapai Keadilan dan kesejahteraan masyarakat karena itu semua adalah Amanat Nasional yang di titipkan pada kita.

 

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog


ShoutMix chat widget