Sekolah Berkualitas Semakin Jauh Dari Rakyat Miskin

Trenyuh kiranya mendengar keluhan orang tua yang anaknya sedang mendaftarkan diri baik di SD, SMP maupun SMA. "Coba bayangkan dulu SD itu ketika masih jelek muridnya belum banyak mau buat pagar dan ngecet tembok minta pada kita-kita orang miskin sebab mana mau orang kaya menyekolahkan anaknya di sekolahan yang jelek, kini sekolah jadi maju jadi bagus kok malah orang miskin dipersulit bahkan dilarang masuk ke sekolah itu, memangnya dulu yang menjadkan maju siapa, yan jadikan sekolah terkenal anak siapa, Apa anak orang miskin dilarang pintar?" Banyak sekali keluhan dari orang tua, sebenarnya secara normatif aturan sih sekolahan tidak melarang anak orang miskin sekolah disitu dan juga tidak mempersulit. tetapi seiring dengan semakin majunya sekolahan dan semakin banyaknya minat orang tua menyekolahkan anaknya disekolah itu hukum pasar berlaku, pagu yang ada lebih kecil daripada jumlah pendaftar, salah satu cara yang fair adalah melakukan seleksi penerimaan murid baru. Lha disini persoalan awal mulai muncul, Anak orang kaya biasanya lebih baik hasil testnya dibanding anak orang miskin, anak orang kaya relatif lebih cepat dan berani bersoasialisasi serta menyesuakan diri terhadap lingkungan baru sehingga dengan mudah dan tegas menjawab pertanyaan ketika diwawancarai dan mereka juga kebanyakan lebih bisa menjawab soal tertulis, karena Di TK mereka yang dulu kualitas pembelajarannya lebih baik. Satu hal lagi meskipun sudah dilarang adanya pungutan pada orang tua, orang kaya dengan berbagai cara seringkali memberikan fasilitas dan perhatian lebih pada guru dengan atau tanpa diminta. Disisi lain sekolah juga mempunyai kepentingan agar input yang masuk ke sekolahnya adalah input yang baik agar kualitas sekolahan mereka terjaga. bagaimanapun memang susah jadi orang miskin, hanya anak orang miskin yang pinter yang bisa menikmati sekolahan yang berkualitas, Gimana jadinya nasib orang miskin kalau kesempatannya adalah Anak Orang miskin Pintar = anak orang mskin bodoh

 

1 komentar:

dani mengatakan...

tempo hari ada temenku yg menulis di blognya. kira2 intinya begini...
"mungkin fokus kita bukan lagi pada menyantuni umat yang hidup dalam kemiskinan, melainkan pada pemberdayaan..."
aku pikir ada benernya juga...
sebagai umat Islam, sudah wajib kita berzakat. tapi berapa banyak dari kita yang sudah sampai pada tataran "memberdayakan"?
fokus pemberdayaan ini rasanya makin penting ketika aku ngobrol dengan sepupuku (seorang guru madrasah di bali) yang mengeluh karena ada muridnya (seorang penerima santunan dari sekolah karena berasal dari keluarga kurang mampu) ternyata cukup makan, tapi lholak-lholok di kelas. dan ketika ibunya dipanggil, jawabannya adalah, "buat apa pinter-pinter, wong saya jualan roti aja bisa makan kok..."
mengenaskan!!!

Posting Komentar

Arsip Blog


ShoutMix chat widget