Hampir setiap hari sekarang Publik Indonesia disuguhi tontonan menarik yang tidak kalah dengan Indonesia Open, mulai dari parodi politik, debat capres dan cawapres, liputan kampanye dan yang tidak kalah serunya adalah ulasan dan debat diantara tim sukses serta para pakar politik dan mahasiswa. Menarik sekaligus memprihatinkan, masyarakat menjadi tahu seperti apa panasnya kompetisi memperebutkan RI 1 di tingkatan elit politik, masyarakat juga bisa mengamati sejauh mana kualitas pemikiran serta keperpihakan para elit politik yang sebagian besar adalah calon Legislator yang baru saja diberi mandat oleh masyarakat.
Disisi lain tontonan yang disuguhkan ternyata beberapa justru ada yang merupakan upaya pembodohan masyarakat, ungkapan-ungkapan elit politik yang selama ini dijadikan panutan bagi sebagian masyarakat secara langsung atau tidak langsung telah mengajak masyarakat untuk tidak kritis pada beberapa persoalan, mereka tidak fair dalam menilai permasalahan, sangat terkesan hanya mengambil beberapa hal yang dinilai bisa menguntungkan calon yang didukungnya. Ketegasan dan kelantangan berbicara hanyalah agar masyarakat utamanya masyarakat yang kurang bisa mengakses informasi menjadi yakin pada apa yang diungkapkannya dimana pada akhirnya berempati dan mendukung calon yang didukungnya.
Kondisi dimana sebagian besar masyarakat masih belum melek politik serta belum bisa menganalisa permasalahan dijadikan celah untuk menggaet dukungan, dengan ketenaran dan ketokohannya mereka memaparan apa yang semestinya masih bisa dianalisa secara mendalam akan baik dan buruknya sebuah persoalan, mereka hanya menyampaikan sesuaitu secara subyektif dari sudut pandang mana yang sekiranya menguntungkan.
Kiranya saatnya momen kampanye pilpres ini bisa digunakan oleh banyak pihak tidak hanya timsukses tetapi juga kelompok independen dan para cendekiawan untuk bisa memaparkan bagaimana sebenarnya kondisi negri ini, mengkritisi bagaimana visi, misi serta program dari masing-masing calon bila dipraktekkan, mungkinkah, bagaimana serta apa kira-kira kebijakan yang akan diambil, bagaimana tingkat resiko dan keberhasilannya.
Sebagian masyarakat menjadi dibuat bingung menentukan siapa yang akan mereka pilih pada 8 juli nanti, berilah kesempatan masyarakat untuk bisa menilai dengan kaca mata obyektifitas setelah mereka menperoleh pandangan yang utuh atas beberapa permasalahan yang dilontarkan para capres dan tim suksesnya, kiranya tanpa itu terjadi pemimpin yang terpilih nantinya bukan didasari pada sebuah obyektifitas penialaian masyarakat tetapi karena hasutan dari subyektifitas para jurkam dan timsukses serta para calon presiden itu sendiri.
kiranya masih ada beberapa hari kedepan yang bisa digunakan untuk memberikan pemahaman yang utuh pada masyarakat tentang apa yang menjadi visi, misi dan program para capres dan cawares secara benar pada masyarakat. Atau memang kita ingin masyarakat dibiarkan bodoh dan dengan seenaknya kita bisa ngomong atas nama masyarakat yang telah memberikan mandatnya secara tidak obyektif.
0 komentar:
Posting Komentar