Seperti yang sering saya jelaskan dalam artikel sebelumnya tentang keseimbangan kekuasaan, keseimbangan ini sangat penting dalam sebuah negara besar seperti Indonesia. Kali ini saya ingin menekankan bahwa keseimbangan politik praktis dan memiliki keseimbangan kemampuan dalam kekuasaan tidaklah cukup.
- Seperti yang terjadi diberbagai negara yang mempunyai cukup amunisi dan strategi dalam praktek ketata negaraan , seperti korea selatan dan beberapa negara eropa pada umumnya adalah keseimbangan kekuasaan dengan keterampilan yang tinggi sangat diperlukan untuk menjadi benteng atau bagian utama dalam keseimbangan people power dan pemerintahan yang kuat. Tanpa daya dari dalam , keterampilan, konstitusi yang kuat dan nasionalisme sebagai ruh sungguh sulit untuk dapat membuat perbedaan dalam sebuah masa dimana transisi demokrasi, politik dan kekuasaan dalam kekuatan bangsa besar yang berbineka tunggal ika.
- Apa yang dilakukan oleh Founding Fathers kita adalah bagaimana mewujudkan kemerdekaan dengan keadilan ekonomi. Pendiri bangsa kita benar-benar memahami keseimbangan dan rasa keadilan sebagaimana ikut merasakan sakit apa yang dialami oleh rakyatnya, sehingga ide dasar gagasan tersebut bisa dimasukkan ke dalam konstitusi (UUD ‘45). Baru-baru ini upaya tokoh politik, pengamat dan universitas memberikan opininya tentang revitalitas konstitusi dalam perubahan posisi dan strategi lembaga-lembaga negara adalah sangat bagus, meskipun masih belum oktimal bahkan masih terlihat tumpang tindih. Warga negara Indonesia datang dalam satu suara untuk menegakkan konstitusi dan nasionalisme, bukan sebagai impian kosong akan tetapi sebuah perjuangan panjang untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan.
- Bersama dengan segala macam perubahan dunia di sekitarnya, termasuk invasi asing yang pernah kita alami bahkan sampai sekarang. Saya khawatir bahwa kami datang sangat terlambat dalam membaca gejala ini dimana banyak yang kehilangan keseimbangan kekuasaan yang akan berdampak pada kekuatan nasional. Ancaman yang datang dari luar yang masuk melalui lobi-lobi politik sangat kita hawatirkan, apalagi banyaknya partai-partai yang masih mengandalkan populeritas seseorang menjadi bagian penting dalam merebut suara. "Kami Rakyat" merasa perlu meluruskan keserakahan konglomerat politik yang akhir-akhir ini telah bermain secara tidak jujur, apa yang menjadi dasar pijakan kita. Apa yang telah diajarkan di sekolah–sekolah dan di dalam kelompok masyarakat untuk tidak pernah memberikan pilihannya yang tidak sesuai dengan cita-cita luhur kemerdekaan, kini menjadi tidak jelas apa yang dilakukan kelompok pragmatis dan kelompok secara konsep lemah untuk tetap menang dan berkuasa.
- Pertanyaan saya, siapa pun yang sengaja ragu untuk berbuat adil dan jujur untuk memimpin rakyat. Hal ini karena adanya keseimbangan kekuasaan Indonesia yang sangat masih butuh menejemen yang efektif, inovasi dan transformative untuk memakmurkan rakyat. Kami hanya perlu melihat negara lain untuk melihat apa yang terjadi ketika kekuatan bergeser ke polisi dan mliter. Kami hanya perlu melihat Indonesia untuk melihat apa yang terjadi ketika kekuatan bergeser ke sipil--demokratis dan mempunyai system pertahanan yang kuat.
- Seperti yang terjadi diberbagai negara yang mempunyai cukup amunisi dan strategi dalam praktek ketata negaraan , seperti korea selatan dan beberapa negara eropa pada umumnya adalah keseimbangan kekuasaan dengan keterampilan yang tinggi sangat diperlukan untuk menjadi benteng atau bagian utama dalam keseimbangan people power dan pemerintahan yang kuat. Tanpa daya dari dalam , keterampilan, konstitusi yang kuat dan nasionalisme sebagai ruh sungguh sulit untuk dapat membuat perbedaan dalam sebuah masa dimana transisi demokrasi, politik dan kekuasaan dalam kekuatan bangsa besar yang berbineka tunggal ika.
- Apa yang dilakukan oleh Founding Fathers kita adalah bagaimana mewujudkan kemerdekaan dengan keadilan ekonomi. Pendiri bangsa kita benar-benar memahami keseimbangan dan rasa keadilan sebagaimana ikut merasakan sakit apa yang dialami oleh rakyatnya, sehingga ide dasar gagasan tersebut bisa dimasukkan ke dalam konstitusi (UUD ‘45). Baru-baru ini upaya tokoh politik, pengamat dan universitas memberikan opininya tentang revitalitas konstitusi dalam perubahan posisi dan strategi lembaga-lembaga negara adalah sangat bagus, meskipun masih belum oktimal bahkan masih terlihat tumpang tindih. Warga negara Indonesia datang dalam satu suara untuk menegakkan konstitusi dan nasionalisme, bukan sebagai impian kosong akan tetapi sebuah perjuangan panjang untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan.
- Bersama dengan segala macam perubahan dunia di sekitarnya, termasuk invasi asing yang pernah kita alami bahkan sampai sekarang. Saya khawatir bahwa kami datang sangat terlambat dalam membaca gejala ini dimana banyak yang kehilangan keseimbangan kekuasaan yang akan berdampak pada kekuatan nasional. Ancaman yang datang dari luar yang masuk melalui lobi-lobi politik sangat kita hawatirkan, apalagi banyaknya partai-partai yang masih mengandalkan populeritas seseorang menjadi bagian penting dalam merebut suara. "Kami Rakyat" merasa perlu meluruskan keserakahan konglomerat politik yang akhir-akhir ini telah bermain secara tidak jujur, apa yang menjadi dasar pijakan kita. Apa yang telah diajarkan di sekolah–sekolah dan di dalam kelompok masyarakat untuk tidak pernah memberikan pilihannya yang tidak sesuai dengan cita-cita luhur kemerdekaan, kini menjadi tidak jelas apa yang dilakukan kelompok pragmatis dan kelompok secara konsep lemah untuk tetap menang dan berkuasa.
- Pertanyaan saya, siapa pun yang sengaja ragu untuk berbuat adil dan jujur untuk memimpin rakyat. Hal ini karena adanya keseimbangan kekuasaan Indonesia yang sangat masih butuh menejemen yang efektif, inovasi dan transformative untuk memakmurkan rakyat. Kami hanya perlu melihat negara lain untuk melihat apa yang terjadi ketika kekuatan bergeser ke polisi dan mliter. Kami hanya perlu melihat Indonesia untuk melihat apa yang terjadi ketika kekuatan bergeser ke sipil--demokratis dan mempunyai system pertahanan yang kuat.
0 komentar:
Posting Komentar